Category: Tak Berkategori


Sistem halaqah atau majelis ta’lim merupakan keunggulan yang semoga akan terus dipelihara dalam menegakkan dakwah dan kaderisasi ulama di tanah Betawi.

Dalam rentang 482 tahun usia ibu kota Jakarta, gempita dakwah tetap terjaga. Fundamen kukuh yang dibangun para ulama dan habaib sejak kota ini bernama Sunda Kalapa lalu menjadi Jayakarta, Batavia, dan akhirnya Jakarta, telah tertancap kuat di tengah masyarakat Betawi.

Pergeseran zaman dan perputaran sejarah tentu membawa riak-riak yang mempengaruhi struktur dan gaya hidup masyarakat Betawi, tetapi tetap tidak mengubah akar mereka sebagai penganut Islam sehingga Betawi itu identik dengan Islam.

Sistem halaqah atau majelis ta’lim yang dikembangkan oleh para ulama dan habaib, yang mengerti persis corak, kultur, kondisi sosiologis dan tuntutan masyarakat Betawi, telah menjadi dasar yang tak lapuk oleh zaman dalam mempertahankan eksistensi agama Islam di tengah masyarakat Betawi.

Christiaan Snouck Hurgrounje, yang pernah disebut-sebut sebagai orientalis paling berhasil di dunia, mencatat, masyarakat Betawi adalah penduduk pribumi yang paling lama dan paling erat berinteraksi dengan bangsa Eropa.

Lebih jauh Snouck mengatakan, tidak ada satu kampung pun di Jawa yang lebih taat beragama Islam dalam setiap tingkah lakunya daripada Betawi, dan agama Islam di Betawi lebih maju dari daerah lain. Dalam makalahnya, Khazanah Jakarta Menghadapi Tantangan Zaman, K.H. Saifuddin Amsir menguraikan, gambaran Snouck ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sangat mengerti kultur masyarakat di Indonesia dan bahwa kultur keagamaan di Betawi sudah begitu kuat sejak zaman penjajahan dulu.

Patut dicatat, Betawi pernah melahirkan ulama besar, yakni Syaikh Ahmad Junaidi Al-Batawi, yang pernah menjadi imam di Masjidil Haram. Ia bermukim di Makkah sekitar tahun 1834 M. Salah seorang muridnya yang berasal dari Mester Jatinegara, yaitu Guru Mujtaba, juga ulama besar. Guru Mujtaba ini bermukim di Makkah sekitar 40 tahun dan menghasilkan ulama-ulama besar yang kemudian mengisi khazanah ulama Betawi, seperti Guru Manshur Al-Falaki dari Jembatan Lima, Jakarta Barat.

Snouck mengomentari bahwa orang-orang Betawi adalah orang yang kental beragama Islam. Dari sisi keulamaan, Betawi dikenal karena adanya Habib Utsman Bin Yahya, mufti Betawi yang dengan konsisten mengajarkan sendi-sendi Islam ke segenap masyarakat Indonesia.

Sikap konsisten Habib Utsman Bin Yahya ini menurun kepada ulama-ulama Betawi belakangan. Seperti Guru Marzuki dari Cipinang Muara, Jakarta Timur; Guru Manshur Al-Falaki dari Jembatan Lima, Jakarta Barat; Guru Mahmud Ramli dari Menteng Dalam, Jakarta Selatan; Guru Mughni dari Kuningan, Jakarta Selatan.

Secara spektakuler orang-orang Jakarta, yang terbingkai dengan sebutan Betawi, tidak bisa melepaskan sejarah hubungan formal mereka yang begitu kental dengan orang Betawi tempo dulu yang berada di Makkah, dari Imam Junaid sampai dengan Imam Mujtaba.

Beberapa guru dari Betawi yang pernah mengajar di Masjidil Haram, seperti Guru Mahmud Ramli, Menteng Dalam, memunculkan kekuatan yang dapat mengantisipasi skenario besar yang dirancang oleh dunia luar Islam, yaitu kaum penjajah, dengan warna kebencian Barat terhadap Islam.

Bila pada masa-masa itu di India orang mengenal Ahmadiyah, yang dimotori oleh penjajah Inggris, di Iran ada alirah Baha’iyyah, yang dimotori Rusia, di Indonesia muncul aliran-aliran yang dimotori oleh orientalis-orientalis seperti Snouck dan Vander Plast, yang dapat mengunci mati semangat perjuangan umat Islam.

Tapi kehadiran ulama-ulama Betawi bagaikan ikan yang terus hidup di laut tapi tidak pernah asin oleh asinnya air laut. Mereka mampu membentengi aqidah umat dengan istiqamah dan membuat warga Betawi tetap eksis dalam Islam.

Alhasil, setiap warga Betawi identik dengan pemeluk Islam. Sehingga menjadi aneh kalau, belakangan ini, ada orang mengaku asli Betawi tapi bukan muslim.

Peran Halaqah
Menurut Abdul Aziz dalam makalahnya, Peranan Islam dalam Pembentukan Identitas Kebetawian, kuatnya pengaruh Islam dan sentimen anti Barat pada pertengahan abad ke-19 dapat dilihat dari kaitannya dengan perkembangan dakwah Islam yang semakin meningkat, terutama dengan munculnya ulama terkemuka di kalangan orang Betawi. Mereka adalah para ulama yang dididik di masjid-masjid Betawi lalu menuntut ilmu lanjutan di Tanah Suci.

Para ulama tersebut adalah kelompok terdidik yang secara perorangan maupun kolektif memiliki kemampuan mengembangkan solidaritas di kalangan masyarakat Betawi. Sebagaimana umumnya para haji di wilayah lain di Nusantara yang mengobarkan semangat anti penjajahan, pengalaman para ulama itu selama di Tanah Suci serta dedikasi mereka dalam berdakwah sekembalinya ke tanah air telah menempatkan mereka sebagai kelompok elite yang mampu memobilisasi dukungan masyarakat melalui fatwa-fatwa keagamaan, menumbuhkan proses identifikasi yang kuat terhadap Islam, dan menolak identitas lain selain Islam, termasuk penjajah.

Dalam masa ini perkembangan syiar Islam semakin intensif. Hal ini terlihat dari jangkauan wilayah dakwah para ulama itu, keberhasilan anak didik mereka menjadi juru dakwah di daerah mereka sendiri, serta penyediaan bahan bacaan keagamaan dalam tulisan Arab Melayu.

Enam “Pendekar” Betawi
Jaringan intelektual para ulama itu menampakkan bentuknya yang lebih jelas di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika sedikitnya enam orang ulama terkemuka berhasil melebarkan pengaruh keulamaan yang menjangkau hampir seluruh bagian Batavia. Jaringan keulamaan yang dikembangkan oleh enam “pendekar” itu kelak merupakan salah satu pilar kekuatan mereka sebagai kelompok elite yang diakui masyarakat.

Keenam ulama itu adalah K.H. Moh Mansur (Guru Mansur) dari Jembatan Lima, K.H Abdul Majid (Guru Majid) dari Pekojan, K.H. Ahmad Khalid (Guru Khalid) dari Gondangdia, K.H. Mahmud Romli (Guru Mahmud) dari Menteng Dalam, K.H Ahmad Marzuki (Guru Marzuki) dari Klender, dan K.H. Abdul Mughni (Guru Mugni) dari Kuningan.

Corak pendidikan para ulama tersebut, baik selama di tanah air maupun di Tanah Suci, sangat menentukan corak pemahaman Islam yang mereka sebar luaskan di kalangan orang Betawi. Ciri utama corak ini ialah kecenderungan yang kuat mempertahankan tradisi pemahaman Islam melalui khazanah intelektual sebagaimana terkandung dalam kitab-kitab klasik berbahasa Arab.

Sejalan dengan pengalaman belajar mereka di Tanah Suci yang umumnya berbentuk pengajian halaqah di masjid, model belajar dan materi yang diajarkan kepada murid-murid mereka di tanah air juga tidak berbeda jauh dari pengalaman belajar mereka sendiri.

Pendidikan model madrasah sebenarnya telah dikenal di Makkah dan Madinah sejak abad ke-12 dan terus berkembang hingga masa kedatangan orang-orang Islam dari Nusantara, tetapi tidak banyak ulama Betawi abad ke-19 yang memanfaatkan madrasah sebagai tempat menimba ilmu.

Menurut K.H. Ahmad Junaidi, seorang ulama Betawi terkemuka yang pernah tinggal di Makkah selama enam tahun, hanya sedikit ulama Betawi yang belajar di madrasah. Sebelum tahun 1933, orang Betawi yang belajar di madrasah biasanya masuk ke Madrasah Saulitiyah, milik orang India. Sesudah muncul Madrasah Darul Ulum, yang didirikan orang Palembang pada tahun 1933, kebanyakan orang Betawi yang ingin belajar di madrasah masuk ke sini.

Alasan utama madrasah tidak terlalu diminati antara lain terletak pada masa belajar yang panjang dan alasan keuangan. Mereka memandang, apa yang dilakukan halaqah-halaqah di Masjidil Haram jauh lebih ideal, karena pelajaran yang dipentingkan adalah penguasaan kitab kuning (klasik).

Silsilah Intelektual
Dalam kaitan ini, sangat penting bagi mereka silsilah intelektual. Salah satu prinsip yang mereka anut, al-isnad (sandaran intelektual) merupakan sebagian dari urusan agama, karena tanpa itu setiap orang akan merasa berhak mengatakan apa yang diinginkannya.

Sebagian besar ulama Betawi abad ke-19 yang belajar di Makkah berguru kepada sejumlah ulama yang memiliki isnad dengan ulama-ulama terkemuka di Makkah dan Madinah (Haramain) abad ke-17, seperti Ahmad Al-Qusyasyi dan Abdul Aziz Al-Zamzami. Di antara guru-guru mereka yang paling luas dikenal adalah Syaikh Mukhtar Atharid, Syaikh Umar Bajunaid, dan Syaikh Umar Sumbawa.

Mukhtar Atharid dan Umar Bajunaid memiliki isnad melalui Syaikh Abubakar Syatha Al-Dimyati, pengarang kitab I’anatut Thalibin. Sedangkan isnad Umar Sumbawa melalui Syaikh Abdullah As-Syarkawi, pengarang kitab Syarkawi. Kedua kitab tersebut merupakan kitab standar di kalangan ulama Indonesia.

Sebagian guru mereka tidak selalu memiliki isnad dengan ulama terkemuka di abad sebelumnya, namun mereka tetap memiliki isnad yang pada akhirnya bermuara kepada apa yang disebut oleh Guru Mansur sebagai Ma’dan al-Irfan, atau sumber ilmu pengetahuan, yaitu Rasulullah SAW. Demikian pula, para ulama Betawi abad ke-20 yang sempat bermukim di Haramain belajar kepada murid-murid para ulama Haramain yang pernah mengajar ulama Betawi di abad sebelumnya, sehingga isnad mereka tetap terpelihara.

Sebagaimana lazimnya tradisi halaqah, seorang ulama tidak pernah belajar hanya kepada satu guru, melainkan kepada banyak guru, sehingga terdapat isnad di mana sejumlah besar ulama Betawi pada kurun waktu tertentu belajar dari ulama yang sama dan menciptakan isnad yang bersifat kolektif, di samping ada pula isnad yang bersifat perorangan.

Berbeda dengan ulama di Jawa, yang pada umumnya mengembangkan pondok pesantren, para ulama Betawi tetap setia dengan model halaqah di masjid-masjid, sebagaimana mereka alami di Tanah Suci. Dari keenam ulama Betawi abad ke-19, hanya Guru Marzuki Klender yang mendirikan pesantren dengan santri mukim sekitar 50 orang, tapi kemudian tidak dapat bertahan sepeninggalnya.

Ulama lainnya yaitu Guru Mansur, yang sempat berkiprah mengajar di madrasah pertama di Batavia, Jamiat Kheir. Bukannya mendirikan pesantren, tetapi justru mendirikan Madrasah Perguruan Islam Al-Mansyuriah. Secara umum dapatlah dikatakan, para ulama Betawi yang lebih belakangan cenderung mengembangkan madrasah daripada pondok pesantren. Sehingga mereka memadukan penyelenggaraan madrasah dengan pengajian model halaqah di masjid.

Halaqah seorang ulama Betawi biasanya tidak terbatas di masjid yang berlokasi dekat rumahnya, tapi lebih dari itu, menjangkau ke berbagai tempat yang jauh. Contoh aktual K.H. Syafi’i Hadzami, salah seorang mua’llim Betawi yang disegani. Ia mempunyai 40-an halaqah di berbagai tempat.

Khusus tentang Mua’llim M. Syafi’i Hadzami ini, pada akhir Mei 2009 yang lalu diadakan seminar bertajuk Muallim Syafi’i Hadzami In Memoriam, yang menyigi pemikiran dan kiprah dakwahnya sehingga dia diakui sebagai ulama terkemuka yang berpengaruh.

Tiga Institusi Pendidikan Agama
Salah seorang muridnya, K.H. Syaifuddin Amsir, membawakan makalah Peran Halaqah dan Majelis Ta’lim di DKI Jakarta dalam Mencetak Ulama. Menurut Syaifuddin Amsir, di masyarakat Betawi, ada tiga jenis institusi pendidikan yang dijadikan tempat untuk mendidik anak-anak mereka di bidang agama. Yaitu pesantren, madrasah, dan majelis ta’lim (halaqah)

Khusus majelis ta’lim, ini merupakan instusi pendidikan yang memiliki fungsi strategis dalam memaksimalkan masjid sebagai tempat pendidikan umat. Hal ini dikarenakan sebagian besar majelis ta’lim dari dahulu sampai sekarang, khususnya di Betawi, menjadikan masjid sebagai tempat aktivitasnya, dan sangat berperan penting dalam melahirkan ulama Betawi yang mumpuni di bidangnya.

Salah satu contohnya, Mu`allim K.H. Syafi`i Hadzami,`allamah di bidang fiqih Asy-Syafi`i yang pengaruhnya sangat luas, bahkan sampai hari ini, baik di masyarakat Betawi maupun luar Betawi. Ia ulama produk asli dari binaan banyak halaqah dan majelis ta’lim di Betawi. Pada masa menuntut ilmu, tidak kurang dari 11 majelis ta’lim dengan 11 orang guru yang ia datangi dalam rangka menuntut berbagai disiplin ilmu agama. Setelah menjadi ulama, ia pun mengajar tidak kurang di 30 majelis ta’lim sampai akhir hayatnya.

Dari pengajaran majelis ta’limnya, terlahir ulama Betawi terkemuka, seperti K.H. Drs. Saifuddin Amsir, K.H. Maulana Kamal, K.H. Abdurrahman Nawi, dan lain-lain, yang mereka pun meneruskan pengajaran di majelis ta’lim, baik di tempat gurunya pernah mengajar, majelis ta’lim yang dibentuknya, maupun majelis ta’lim yang dimiliki pihak lain.

Tiga Kelebihan
Keberhasilan halaqah di Betawi dalam mencetak ulama paling tidak karena dua hal. Pertama, tidak adanya batasan waktu untuk menyelesaikan satu disiplin ilmu atau satu kitab. Kedua, anak didik atau murid mempunyai kebebasan waktu dan kesempatan untuk menanyakan dan menyelesaikan pelajaran yang tidak dia pahami kepada gurunya. Dan ketiga, anak didik atau murid langsung dihadapkan dengan kasus-kasus yang terjadi di masyarakat.

Walhasil, dalam beberapa kesempatan telah teruji bahwa lulusan majelis ta’lim memiliki pemahaman ilmu agama yang lebih mendalam daripada lulusan perguruan tinggi Islam. Bahkan menurut Mu`allim K.H. Syafi`i Hadzami, tidak sedikit sarjana bidang Islam yang bergelar doktor dan profesor menjadikan lulusan majelis ta’lim sebagai tempat untuk bertanya tentang masalah-masalah yang pelik di bidang ke-Islaman.

Ini sangat beralasan. Karena, jika dilihat dari kitab-kitab yang dibahas dan ditamatkan di majelis ta’lim, tidak banyak dikupas bahkan tidak pernah dibahas secara tuntas di perguruan tinggi Islam. Kitab-kitab yang diajarkan majelis ta’lim di Betawi antara lain Syarh Hidayah al-Atqiya`, Syarh al-Hikam, Kifayah al-Atqiya`, Anwar Masalik, Tanbih al-Mughtarrin, Minhaj al-`Abidin, Tanbih al-Mughtarrin (semuanya kitab tasawuf).

Kemudian Sab`ah Kutub Mufidah, Fath al-Mu`in, Bidayah al-Mujtahid, Mughni al-Muhtaj, Minhaj at-Tholibin, Al-Mahalli, Fath al-Qorib, Kifayah al-Akhyar, Fath al-Wahhab, Tuhfah at-Thullab (kitab fiqih). Lalu Riyadh ash-Sholihin, Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Nail al-Awthar (kitab hadits).

Berikutnya, Tafsir Ibn Katsir, Tafsir an-Nasafi, Tafsir Munir (kitab tafsir), Tarikh Muhammad (kitab sejarah), Al-Itqon Fi `Ulum al-Qur`an (ilmu Al-Quran). Selain kitab-kitab di atas, di antara ulama Betawi yang mempunyai dan memimpin majelis ta’lim ada yang mengajarkan kitab hasil karyanya sendiri, seperti K.H. Muhadjirin Amsar Ad-Darry, yang mengarang syarah kitab fiqih Bulugh al-Maram yang diberi judul Mishbah adz-Dzulaam sebanyak delapan juz.

Walau ia telah wafat, kitab Mishbah adz-Dzulaam sampai sekarang tetap diajarkan di beberapa majelis ta’lim yang dipimpin oleh muridnya atau milik orang lain, baik di Bekasi, di Jakarta (misalnya di Madrasah Al-Wathoniyyah 9, pimpinan K.H. Shodri), maupun di daerah lainnya.

Selain itu, kitab Taysir (kitab tajwid), karangan K.H. Abdul Hanan Sa`id (almarhum), yang sampai sekarang masih diajarkan di Majelis Ta’lim Manhalun Nasyi`in, yang kini dipimpin oleh murid K.H. Ali Saman, dan di tempat-tempat lain. Juga kitab-kitab yang dikarang oleh Mu`allim K.H. Syafi`i Hadzami.

Kitab karangan ulama Betawi yang diajarkan hingga ke luar negeri sampai sekarang, seperti di Malaysia, adalah kitab ilmu falak, Sullam An-Nayrain, karangan Guru Manshur Jembatan Lima. Sedemikian pentingnya halaqah dan majelis ta’lim bagi umat Islam, khususnya masyarakat Betawi, sebagai salah satu tempat utama dan terpenting untuk mencetak ulama masa depan. Maka tentu menjadi keprihatinan melihat kondisi halaqah yang secara fisik tempatnya tidak memadai lagi untuk digunakan. Belum lagi semakin rendah kemampuan para murid dan penyelenggara untuk membiayai operasionalisasinya.

Sudut Spiritualitas dan Intelektualitas
Kini sudah saatnya segenap pihak terkait memperhatikan secara lebih serius dan mengambil tindakan nyata untuk menyelamatkan keberadaan halaqah atau majelis ta’lim di ibu kota. Mu`allim K.H. M. Syafi`i Hadzami sendiri menyadari hal ini dan telah melakukan upaya tersebut melalui program Arbai`in (pesantren) dan mendapat dukungan dan sambutan yang positif dari berbagai pihak terkait, terutama Departemen Agama.

Demikian juga Kiai Syaifuddin. Ia menawarkan sebuah konsep tentang lembaga yang diberi nama Zawiyah Jakarta/Betawi Corner. Keberadaan lembaga ini pernah dimaklumatkan pada saat miladnya dan juga milad Mu`allim K.H. M. Syafi`i Hadzami, tanggal 31 Januari 2009 lalu.

Istilah Zawiyah Jakarta, yang dalam bahasa Indonesia berarti “Sudut Jakarta”, sarat dengan makna sufistis. Zawiyah Jakarta adalah sudut spiritualitas yang diharapkan dapat mencerahkan dan membebaskan umat dari kesempitan hati yang berada di tengah-tengah pertarungan hidup dan bergulat dengan dengan segala persoalannya. Sudut spiritualitas yang menjadi rumah bagi siapa pun yang tersingkir dan merasa kalah oleh kekuatan dan tipu daya duniawi dan mendampingi mereka untuk mencapai derajat insan kamil.

Sedangkan Istilah Betawi Corner dicetuskan kemudian sebagai sudut intelektualitas yang melengkapi sudut spritualitas. Ini juga sebagai tandingan atau antitesa dari Sudut Amerika, American Corner, yang bercokol di berbagai kalangan universitas di Indonesia, yang ditengarai mempunyai agenda tersendiri untuk merusak Islam dan semua agama yang ada melalui liberalisme dan pluralisme agama.

Betawi Corner menjadi urgent karena melihat kondisi masyarakat Betawi sekarang ini yang sangat memprihatinkan. Dengan adanya Betawi Corner, diharapkan akan muncul ulama Betawi yang dapat berperan sama dengan para pendahulunya bahkan lebih, dan gagasan ini diharapkan dapat bersinergi dengan Jakarta Islamic Centre.

Adapun kegiatannya dimulai dari dua hal. Yaitu mengadakan isitighatsah Jakarta, istighatsah masyarakat dan ulama ibu kota, dan program Awwabin (program seperti Arbai`n tapi dilakukan ba`da maghrib).

Pemberdayaan Umat
Nama Betawi Corner kemudian disandingkan dengan nama Zawiyah Jakarta, sehingga menjadi Zawiyah Jakarta/Betawi Corner. Diharapkan, Zawiyah Jakarta/Betawi Corner dapat menjadi wadah pergerakan spriritualitas dan intelektualitas serta sebagai wadah pemberdayaan umat yang manfaatnya diharapkan tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Betawi, tetapi juga oleh masyarakat luas.

Visi dan misi lembaga ini adalah menjadi pusat pergerakan spiritualitas, intelektualitas, dan pemberdayaan umat, khususnya untuk masyarakat Betawi.

Adapun fungsinya adalah, pertama, sebagai tempat pembinaan spiritualitas dan intelektualitas. Kedua, tempat untuk melakukan rekacipta kebudayaan Betawi yang Islami. Ketiga, tempat bertemu, berdiskusi, dan bermusyawarah bagi ulama dan masyarakat Betawi dan Jakarta untuk merespons persoalan-persoalan yang muncul.

Keempat, tempat yang melahirkan produk-produk pemikiran Islam kontemporer yang berpegang pada warisan khazanah Islam masa lalu. Kelima, tempat pembibitan dan pengkaderan ustadz-utadz muda Betawi yang diharapkan bisa menjadi ulama-ulama Betawi yang berkualitas, bukan saja untuk masyarakat Betawi, tetapi juga untuk kepentingan umat Islam secara keseluruhan di kemudian hari.

Keenam, sebagai tempat pemberdayaan masyarakat sehingga masyarakat Betawi khususnya tidak tertinggal di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi dengan akhlaq dan tingkat pemahaman ke-Islaman yang memadai.
Halaqah atau majelis ta’lim memegang peranan penting dalam mencetak ulama dan memperkukuh dakwah Islamiyah di tanah Betawi. Oleh karenanya diharapkan agar keberadaan halaqah dipertahankan dan mendapatkan perhatian khusus dari pihak-pihak terkait, khususnya Pemprov DKI Jakarta.

Iklan

Bersahabat dengan Orang baik

Untaian mutiara kalam
Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad Alhaddad

Usahakanlah kalian selalu bersahabat dengan orang-orang yang berakhlak mulia agar dapat meneladani perilaku baik mereka dan sekaligus bisa mendapatkan keuntungan dari perbuatan dan ucapan mereka. Biasakanlah pula untuk berkunjung kepada mereka yang masih hidup dan berziarah kepada mereka yang telah tiada disertai dengan rasa penuh keikhlasan, penghormatan dan penghargaan. Dengan demikian kalian akan mendapatkan manfaat dan limpahan barokah dari Alloh melalui keberadaan mereka.Pada jaman ini memang sedikit sekali manfaat yang dapat diperoleh melalui orang-orang yang sholeh. Hal ini dikarenakan kurangnya penghormatan dan lemahnya husnudz dzon terhadap mereka. Itulah sebabnya kebanyakan orang di jaman sekarang tidak memperoleh barokah dari mereka itu. Orang jaman sekarang tidak bisa lagi menyaksikan berbagai peristiwa menakjubkan yang muncul karena kedudukan mereka yang telah memperoleh karomah dari Alloh SWT. Merekapun mengira bahwa pada jaman ini sudah tidak ada lagi orang-orang yang disebut sebagai wali. Dugaan yang demikian itu tidaklah benar sama sekali. Alhamdulillah para wali itu masih cukup banyak, yang tampak maupun yang tersembunyi. Namun tak ada yang bisa mengenali identitas mereka itu kecuali orang-orang yang telah mendapatkan anugerah cahaya kebenaran dan kebesaran Alloh dalam hatinya dan mereka selalu berhusnudz dzon kepada mereka.Hindarilah bergaul dengan orang-orang yang berakhlak buruk dan bermoral rendah. Jauhilah pergaulan dengan mereka, karena dengan menjadikan mereka itu sahabat kalian, maka hanya kerugian dan malapetakalah yang akan kalian alami di dunia maupun di akherat. Pergaulan seperti itulah yang membengkokkan sesuatu yang lurus, dan yang lebih parah lagi mengakibatkan rusaknya hati dan agama. Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh seorang penyair :Orang yang berkudis takkan menjadi sehat kembali akibat bergaul dengan orang yang sehat,namun orang yang sehat gampang tertular penyakit akibat bergaul dengan orang yang berkudis.

[Disarikan dari Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, terjemahan dari Al-Washoyah An-Naafi’ah, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Alhaddad, Cetakan I, Penerbit Kharisma]

Penghormatan kepada Sholihin
Kalam Al Habib Abdulloh bin Husin Bin Thohir Ba alawy

Bawalah dirimu senantiasa berkumpul dengan orang-orang yang sholeh dan biasakanlah berperilaku sebagaimana perilaku mereka. Ambillah manfaat dari perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan mereka. Biasakanlah berziarah kepada mereka baik yang masih hidup ataupun sudah meninggal disertai dengan sebaik-baiknya penghormatan dan husnudz dzon (berbaik sangka) yang tulus. Dengan cara itulah orang yang mengunjungi mereka akan mendapat manfaat dan karunia melalui mereka. Sesungguhnya begitu sedikitnya kemanfaatan yang didapatkan oleh orang-orang sekarang dari keberadaan para sholihin karena sedikitnya rasa penghormatan dan husnudz dzon mereka kepada para sholihin sehingga mereka tidak mendapatkan keberkatan dari para sholihin.
Mereka juga tidak pernah menyaksikan karomah-karomah para sholihin sehingga mereka mengatakan bahwa tidak ada Auliya’ pada jaman ini. Padahal alhamdulillah mereka para wali Alloh saat ini begitu banyak, baik yang kelihatan maupun yang tersembunyi. Tidaklah mengetahui keberadaan mereka kecuali orang-orang yang hatinya diberi cahaya oleh Alloh dengan cahaya – cahaya penghormatan dan husnudz dzon kepada para sholihin. Oleh karena itu tepatlah yang dikatakan dalam suatu penuturan “Almadad fil masyhad”. Maksud dari “Almadad fil masyhad” adalah besarnya karunia dan pemberian Alloh kepada seseorang yang didapatkan dari para sholihin adalah tergantung dari seberapa besar orang tersebut memandang dan memposisikan mereka di dalam dirinya. Jika dia melihat para sholihin tadi dengan suudz dhon (berburuk sangka), maka karunia dan pemberian yang ia dapatkan tentunya sedikit atau bahkan tidak sama sekali. Jika ia melihat mereka dengan pandangan husnudz dhon, maka ia akan mendapatkan karunia dan pemberian dari Alloh sebesar rasa husnudz dzonnya kepada mereka.

[Diambil dari Majmu’ kalam Al-Habib Abdulloh bin Husin Bin Thohir Ba’alawy, hal. 71-72]

ADAB DALAM MAJELIS
Kalam Al Habib Abdul Bari bin Syeikh Alaydrus

Dalam suatu rauhah yang dihadiri oleh Al-Habib Abdul Bari’ bin Syeikh Alaydrus, seorang munsyid membacakan sebuah qosidah Al-Habib Abdulloh bin Alwi Alhaddad. Setelah qosidah itu selesai dilantunkan, berkata Al-Habib Abdul Bari’ bin Syeikh Alaydrus: Jika ada seseorang yang asyik berbicara pada saat dilantunkan suatu qosidah yang digubah oleh Salaf, maka hal itu akan berarti dia merasa yakin bahwa dia punya omongan lebih baik dari kalam Salaf. Atau bisa berarti dia menolak kalam tersebut. Begitu juga jika seseorang asyik berbicara pada saat yang lain lagi membacakan Fatihah atau berdoa, maka hal itu menunjukkan sesungguhnya dia tidak mau mendapatkan pahala dari Fatihah atau doa yang dibacakan itu.

Didalam hadits dikatakan : Jika ada seseorang asyik berbicara ketika yang lainnya sedang membaca Al-Qur’an, maka Alloh menyuruh seorang Malaikat dan Malaikat tersebut akan berkata kepada yang lagi asyik berbicara, “Diamlah wahai musuh Alloh”, sampai ia tidak bicara lagi. Jika ia masih tetap berbicara, Malaikat tadi akan berkata kepadanya, “Diamlah wahai orang yang sungguh dibenci oleh Alloh”, sampai ia berhenti berbicara. Jika ia masih juga tetap berbicara, Malaikat itu akan berkata kepadanya, “Diamlah wahai orang yang sungguh dilaknat oleh Alloh”. Kalam Rasululloh SAW bersesuaian dengan Al-Qur’an. Begitu juga dengan kalam Salaf bersesuaian mengikuti kalam Rasululloh SAW. Karena mereka tidaklah berbicara kecuali dengan ijin robbani. Begitulah ilmu tidak akan bisa didapatkan kecuali dengan adab maka beradablah kalian…beradablah…

[diambil dari kitab Bahjatun Nufus fi kalam Al-Habib Abdul Bari’ bin Syeikh Alaydrus, disusun oleh Al-Habib Muhammad bin Saggaf bin Zain Al-Hadi, hal. 84-85]

Keutamaan Bismillah

Assalamualaikum wr wb,

“TAFSIR Bismillâhirrahmâ nirrahîm”:

Bahwa ada suatu kaum yang datang pada hari kiamat sambil mengucap Bismillahirrahmanri rahim.Lebih berat kebajikan mereka dari keburukan mereka. Lalu berkata umat-umat yang lain. “Alangkah beratnya timbangan amalan kebajikan mereka.”.

Sesungguhnya menjadi sedemikian itu karena mereka memulai segala pembicaraan mereka dengan Bismillah Kerana bismillah ……itu namanya Zat Allah Yang Maha Agung.

Kalau sekiranya diletakkan langit dan bumi di dalam neraca timbangan serta isinya dan apa yang ada dalam timbangan itu nicaya beratlah lagi timbangan khalimah Bismillahirrahmanni rrahim.

Dan sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi umat ini Bismillah itu keamanan dari tiap bencana dari intaian setan terkutuk. Dijadikan obt dari segala macam penyakit,dari kehinaan,kebakaran, keburukan dengan berkat Bismillah

Hadith dari Anas bin Malik dari Nabi s.a.w yang bermaksud : Andai kata pohon-pohon dijadikan pena,semua lautan dijadikan tinta lalu berkumpullah semua jin,manusia dan malaikat membuat buku, terus mereka menulis erti Bismillah sejuta tahun,mereka tidak akan sanggup,mengertikan walaupun hanya satu persepuluhnya.

Demikian mulya nya bacaan ini,maka mulailah setiap pekerjaan kita atau hari2 kita dengannya karena mengandung kemuliyaan yang Antara lain :

“Jumlah huruf dalam BISMILLAH ada 19 huruf dan malaikat penjaga neraka ada 19 ( QS.ALMuddatsir: 30).Ibnu Mas’ud berkata: ‘Barang siapa yang ingin Allah selamatkan dari 19 malaikat neraka maka bacalah BISMILLAH 19 kali setiap hari.’

– setiap huruf ada penjaga/khadam hingga tiap huruf berkata, ‘Siapa yang membaca BISMILLAH maka kamilah kekuatannya dan kamilah kehebatannya. ‘

– Barangsiapa yang memuliakan tulisan BISMILLAH niscaya Allah akan mengangkat namanya di syurga yang sangat tinggi dan diampunkan segala dosa kedua orang tuanya.

– Barangsiapa yang membaca BISMILLAH maka akan bertasbihlah segala gunung kepadanya.

– Barangsiapa yang membaca BISMILLAH sebanyak 21 kali ketika hendak tidur, maka akan terpelihara dari gangguan syaitan, kecurian dan kebakaran, maut mendadak dan bala.

– Barangsiapa yang membaca BISMILLAH sebanyak 50 kali di hadapan orang yang zalim, hinalah dan masuk ketakutan dalam hati si zalim serta naiklah keberanian dan kehebatan kepada si pembaca.

Demikian,mohon maaf.
Wassalamualaikum wr wb.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَتَسُبُّوا أَصْحَابِيْ فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَابَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw :
” Janganlah kalian mencaci para sahabatku, jika diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka belum menyamai segenggam dari mereka tidak pula setengah genggam dari mereka “. (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ الحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ واَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجمَعِ اْلكَرِيْمِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْجَلْسَةِ اْلعَظِيْمَةِ…

Limpahan puji ke hadirat Allah SWT Yang telah mengumpulkan kita kepada rahasia anugerah yang abadi dari Sang pemilik keabadian yang membuka keabadian , yang membuka rahasia keabadian dalam kebahagiaan yang hal itu hanya milik Sang Maha Abadi, diberikan kepada yang dikehendakiNya yang mereka mengikuti tuntunan para Nabi dan Rasul para pembawa tuntunan mulia nan abadi dipimpin oleh sang pembawa keluhuran risalah yang mulia dan abadi Sayyidina Muhammad saw . Pemimpin seluruh makhluk Allah , sebagaimana sabda beliau saw riwayat Shahih Al Bukhari :

أَنَا سَيِّدُ الناس يَوْمَ اْلقِيَامَةِ ( صحيح البخاري

” Akulah pemimpin seluruh manusia (yang pertama hingga yang terakhir) di hari kiamat ” . ( Shahih Al Bukhari )”

Dan beliaulah pemimpin semua manusia mulai dari Nabiyullah Adam AS hingga manusia yang terakhir hidup di atas permukaan bumi, kesemuanaya di bawah kepemimpinan tunggal Sayyidina Muhammad SAW . Kepemimipinan yang abadi dipilih oleh Yang Maha Abadi untuk memimpin dalam kebahagiaan yang abadi .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…

Semoga aku dan kalian disampaikan oleh Allah pada samudera kebahagiaan yang abadi, dengan kecintaan dan kerinduan kita kepada sang pembawa risalah yang luhur Muhammad Rasulullah SAW yang telah berwasiat kepada kita dari beribu-ribu dan beratus ribu tuntunan Nabawiyah, yang menuntun kita kepada keluhuran dan kebahagiaan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…

Sampailah kita pada hadits mulia ini dimana Rasul saw bersabda :

لاَتَسُبُّوا أَصْحَابِيْ فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ اَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَابَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ ( صحيح البخاري

” Janganlah kalian mencaci para sahabatku, jika diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka belum menyamai segenggam dari mereka tidak pula setengah genggam dari mereka “. ( Shahih Al Bukhari )

Meskipun kita berinfak emas sebesar gunung Uhud sekalipun, maka hal itu belum menyamai satu genggam tangan mereka yang berinfak di masa Nabi di awal perjuangannya, dan tidak pula menyamai pahala setengah dari satu genggam tangan mereka ketika mereka berinfak di jalan Allah di masa kebangkitan pertama Sayyidina Muhammad SAW . Karena apa ? Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna ucapan ini, bahwa ucapan ini diucapakan kepada para sahabat . Para sahabat yang hidup di masa Nabi SAW telah diucapkan ucapan ini , menunjukkan bahwa para sahabat itu memiliki derajat kemuliaan dari yang pertama berjuang bersama Rasulullah saw baru yang kemudian masuk Islam selanjutnya dan selanjutnya .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…

Di awal masa perjuangan Rasul saw , keadaan beliau demikian sulitnya namun kemudian beliau dalam limpahan kemegahan oleh Allah swt, sehingga beliau tiada henti-hentinya melimpahruahkan harta, emas , perak , hewan ternak dan lain sebagainya disampaikan kepada para muslimin dan muallaf ( orang yang baru masuk Islam ) bahkan mereka yang di luar Islam. Hadirin hadirat, hadits ini juga bukan dimaksud untuk menegur atau menghardik ummat beliau untuk tidak mencaci para sahabat, tetapi agar kita menjaga lidah kita dari mencaci orang-orang yang dekat dengan Allah, karena Rasul SAW bersabda riwayat Shahih Al Bukhari :

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ ( صحيح البخاري

” Mencaci seorang muslim itu adalah fasiq dan memerangi muslim itu kufur ” ( Shahih Al Bukhari)

Fasiq adalah orang yang tidak baik di mata Allah, orang yang hina di mata Allah . Jika kita menggunakan lidah ini untuk mencaci seorang muslim itu adalah fasiq, maka lebih –lebih lagi mencaci para sahabat Sayyidina Muhammad saw, kenapa? karena mereka berjuang langsung bersama Rasulullah saw, mereka penopang dakwah Sang Nabi, mereka yang menjadi benteng atas panah dan tombak yang diarahkan kepada tubuh sang Nabi, mereka jadikan tubuh mereka sebagai perisainya. Maka sebanyak-banyaknya amal baik seseorang tiada artinya dibanding amal yang sedikit dari para sahabat, karena apa ?, karena mereka hidup bersama Nabi Muhammad saw dan karena mereka mencintai Rasulullah saw .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…

Tentunya bukan berarti jauhnya kita dengan para sahabat, justru dengan hadits ini Rasul SAW menghendaki kita untuk sampai, bersama dan berkumpul dengan para sahabat karena ketika kita mencintai para sahabat maka kita akan bersama mereka, demikian indahnya sang Nabi yang ingin menjadikan rantai kemuliaan itu tidak putus hanya pada generasi beliau, tapi berkesinambungan dari generasi ke generasi mulai dari Tabi’in lalu Tabi’ittabi’in kemudian Aslafuna As Shaalihin, 14 abad rantai mahabbah terus bersambung kepada mereka yang ingin sampai pada kelompok para shahabat RA, mereka yang mencintai para sahabat akan bersama para sahabat Nabi Muhammad saw. Mereka orang-orang yang mulia, tetapi muncul di masa sekarang ini kelompok yang membenci para sahabat Rasul SAW ,
dalam kelompok lain mereka mencintai sahabat tapi membenci Ahlu bait Rasul saw. Ini adalah dua kelompok yang satu mencintai sahabat Rasul tapi membenci keluarga Rasul, dan kelompok yang lain mencintai keluarga Rasul tapi membenci para sahabat Rasul. Ahlussunnah wal jama’ah berpegang teguh dengan tuntunan sang Nabi, mencintai para sahabat dan mencintai keluarga Rasul saw, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad saw.

Hadirin hadirat, para sahabat pun sangat mencintai keluarga Rasul saw demikian pula keluarga Rasul saw sangat mencintai para sahabat. Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, berkata Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA :

اُرْقُبُوْا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ ( صحيح البخاري

” Jagalah dan dekatlah kepada Nabi Muhammad saw dengan mencintai keluarga beliau “. ( Shahih Al Bukhari )

Diriwayatkan pula dalam Shahih Al Bukhari, berkata Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA :

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَقَرَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ من قَرَابَتِيْ ( صحيح البخاري

” Demi Zat yang jiwaku ada padaNya ( Allah swt ), sungguh menyambung silaturrahmi dengan kerabat Rasulullah lebih aku cintai daripada menyambung silaturrahmi dengan kerabatku “. ( Shahih Al Bukhari )

Demikian ikatan Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA dengan kelurga Rasul Saw. Adapun mengenai kejadian tanah sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari bahwa Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA ketika didatangi oleh Sayyidatuna Fatimah Az Zahra’, putri Rasulullah saw untuk mengambil tanah waris dari sang Nabi, maka Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq sebagai khalifah menolaknya dan mengatakan Rasulullah saw bersabda bahwa ” Rasul tidak mewariskan harta tapi mewariskan ilmu “, maka Sayyidah Fatimah kembali ke rumahnya, namun sebagian orang mengatakan bahwa kejadian ini merupakan perbuatan kelancangan dari Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq yang menyakiti hati putri Rasulullah saw , tentunya tidak demikian, karena Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq setelah menjalankan tugasnya bahwa telah diperintahkan oleh Rasul SAW, bahwa semua Nabi dan Rasul tidak mewarisi harta tetapi mereka mewariskan ilmu, maka semua harta beliau saw masuk ke baitul maal . Namun setelah Sayyidina Abi Bakr mendengar desas desus yang mengatakan bahwa putri Rasulullah kecewa, maka diriwayatkan dalam Fathul Baari Bisyarah Shahih Al Bukhari bahwa Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq datang berkunjung ke rumah Sayyidina Ali bin Abi thalib Kw. Maka berkata Sayyidina Ali : ” Wahai Khalifah Abu Bakr, apa yang membuatmu datang kesini ?”, berkata Sayyidina Abi Bakr : ” Aku memohon izin untuk meminta maaf kepada putri Rasulullah saw, Sayyidah Fathimah Az Zahra’ barangkali aku telah menyinggung perasaannya “, maka sayyidina Ali mengizinkan , kemudian Sayyidina Abi Bakr masuk dan memohon maaf, diriwayatkan dalam Fathul Bari bahwa Sayyidina Abi Bakr tidak keluar dari kamar itu sampai Sayyidatuna Fathimah Az Zahra’ telah ridha dan gembira dengan sesuatu yang barangkali menyinggung perasaannya . Maka berkata Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani bahwa riwayat ini menyelesaikan permasalahan tanah dengan tuntas karena sayyidina Abi Bakr telah memohon maaf kepada Sayyidatuna Fathimah, dan Sayyidatuna Fathimah sudah merelakannya,

Lantas siapa lagi yang masih ingin meributkan bahwa para sahabat saling bermusuhan satu sama lain, bahwa para sahabat berebutan tanah satu sama lain, ini bukan sinetron, ini keluarga Sayyidina Muhammad SAW . Semua khulafaa Ar Rasyidiin adalah keluarga Rasulullah SAW, Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq adalah mertua Rasulullah saw, Sayyidina Umar Ibn Khattab mertuanya Rasul SAW, Sayyidina Utsman menantu Rasulullah saw, sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah saudara sepupu dan menantu Rasulullah saw. Maka jika ada seseorang atau suatu kelompok dari muslimin atau bukan muslimin mengatakan bahwa sayyidina Abu Bakr, Umar dan Utsman tidak menghargai keluarga Rasul saw, justru mereka ( Khulafaaur Raasyidin) itu keluarga Rasulullah saw, yang dua mertua Rasulullah dan yang dua adalah menantu Rasulullah saw . Maka mereka yang mengatakan hal itu berarti menjelekkan juga keluarga Rasulullah saw . Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA orang yang sangat mencintai keluarga Rasulullah saw, dan sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw serta semua keluarga Rasul SAW dan para sahabat semuanya sangat mencintai Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA. Mereka akrab dalam bergaul dan bercanda. Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, ketika Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq datang dengan wajah yang tidak cerah, wajah yang sedih maka Rasul SAW berkata : ” Sahabat kalian ini sedang dalam kesedihan, apa yang membuatmu sedih wahai Abu Bakr “?, maka sayyidina Abi Bakr menjawab : ” Aku sedikit berselisih faham dengan Umar Ibn Khattab, lalu aku datang ke rumahnya untuk memohon maaf, tapi Umar tidak membukakan pintu untuk ku dibiarkan saja di depan pintu “, maka merah padamlah wajah sayyidina Muhammad saw mendengar ucapan Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq. Dan tidak lama kemudian sayyidina Umar Ibn Khattab datang . Rasulullah saw tanpa langsung menegur sayyidina Umar, beliau hanya berkata : ” Demi Allah, ketika semua orang mendustakan aku, ketika kalian semua mengatakan aku pendusta , Abu Bakr sudah membenarkan ajaranku dan ketika semua orang mendustakan aku, Abu Bakr As Shiddiq juga yang menolongku “, maka Sayyidina Abu Bakr berlutut dan menangis di kaki Rasulullah memohon maaf agar Umar ibn Khattab dimaafkan oleh Rasul SAW. Maka Sayyidina Umar baru ditanya oleh Rasul SAW : ” Wahai Umar apa yang telah kau perbuat pada sahabatmu, sahabatmu telah meminta maaf kepadamu tetapi kau tidak mau memaafkannya “, maka Sayyidina Umar Ibn Khattab berkata : ” betul ya Rasulallah, awalnya aku tidak mau memaafkan , tapi setelah ku buka pintu beliau sudah tidak ada, ku menyusul ke rumahnya beliau pun tidak ada, lantas aku ingin mengadu kepada mu bahwa aku mencari Abu Bakr setelah aku tidak mau membukakan pintu untuk Abu Bakr dan ternyata beliau sudah disini “. Demikian indahnya para sahabat Rasululullah saw Radiyallahu ‘anhum wa ardhahum. Ketika tiba saat-saat wafatnya sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA, maka Sayyidina Abi Bakr berkata kepada putrinya, Aisyah istri Rasulullah saw : ” Wahai Aisyah putriku, Rasulullah saw dulu ketika wafat dikafani dengan berapa helai kain ? “, maka Sayyidatuna Aisyah berkata : ” tiga helai kain wahai Ayah “, berkata lagi Sayyidina Abi Bakr : ” Wahai Aisyah, Rasulullah wafatnya pada hari apa ? ” Sayyidatuna Aisyah berkata : ” Hari senin “, kemudian Sayyidina Abi Bakr bertanya lagi : ” Wahai Aisyah, hari ini hari apa “?, Sayyidatuna Aisyah menjawab : ” hari senin wahai Ayah “, kemudian Sayyidina Abu Bakr berkata : ” Kalau begitu, aku harapkan sebelum terbenanmnya matahari adalah waktu wafatku “. Dan benar sore itu wafatlah Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA , hari Senin di hari wafatnya Rasulullah saw, demikian khalifah yang pertama.

Khalifah yang kedua Sayyidina Umar ibn Khattab RA, kita memahami demikian banyak riwayat beliau sebagai orang yang selalu membela Rasulullah saw dengan segala kemampuannya, dan cintanya kepada Rasul saw sangat luar biasa hingga beliau lebih mencintai Rasulullah saw lebih dari dirinya sendiri, dan ketika beliau berdoa di salah satu doanya adalah :

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي الشَّهَادَةَ فِي بَلَدِ رَسُوْلِكَ

” Wahai Allah berilah aku mati syahid negeri Rasul-MU ”

Sayyidina Umar RA meminta mati syahid, tetapi ada syaratnya mati syahid harus di Madinah Al Munawwarah, tidak mau di tempat yang lain, ingin dimakamkan di Madinah demikian doa sayyidina Umar ibn Khattab yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari . Bahkan di detik-detik wafatnya sayyidina Umar Ibn Khattab RA, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, ketika beliau sedang melakukan shalat dhuhur tiba-tiba ada seseorang menyerangnya dan menusuknya dengan pedang, dan robohlah Sayyidina Umar bin Khattab tetapi tidak langsung wafat, maka beliau di bawa ke rumahnya kemudian beliau minta susu, beliau menyukai susu karena Rasulullah saw juga menyukai susu. Ketika para sahabat melihat Sayyidina Umar ibn Khattab sudah terengah-engah dan darah terus mengalir dari luka besar di perutnya bekas tusukan pedang, setelah air susu diminum maka susu itu tumpah dari bekas luka di perutnya, maka para sahabat berkata kalau sudah begini berarti ini sudah ajal . Maka sayyidina Umar bin Khattab dengan tersengal-sengal berkata kepada putranya sayyidina Abdullah : ” Wahai Abdullah pergilah engkau ke rumah Sayyidatuna Aisyah Ummul Mu’minin, katakan kepada Ummul Mu’minin kalau seandainya diperkenankan aku ingin dimakamkan di sebelah makam Rasulullah saw “, inilah wasiat sayyidina Umar bin Khattab. Maka pergilah putranya, sayyidina Abdullah mendatangi sayyidatuna Aisyah, meminta izin agar Ayahnya diizinkan untuk dimakamkan di sebelah makam Rasulullah saw. Maka menangislah sayyidatuna Aisyah setelah mendengar bahwa Amiirul Mu’minin Sayyidina Umar bin Khattab sudah luka parah dan sedang menanggung sakaratul maut, maka Sayyidatuna Aisyah mengizinkannya. Kenapa Sayyidina Umar meminta izin kepada Sayyidatuna Aisyah?, karena Rasulullah saw dimakamkan di rumah sayyidatuna Aisyah RA. Dan kembalilah sayyidina Abdullah menghadap ayahnya, ternyata ayahnya sayyidina Umar masih hidup, ketika sayyidina Umar melihat anaknya kembali, beliau dalam keadaan bersandar kemudian tegak dengan tersengal-sengal ia berkata kepada anaknya : ” Apa yang akan kamu katakana, kabar apa yang akan kamu sampaikan, apakah aku diizinkan untuk dimakamkan di sebelah Rasulullah saw ? “, berkata sayyidina Abdullah : ” sudah diizinkan wahai Amiirul Mu’minin”, maka berkatalah sayyidina Umar bin Khattab : ” Demi Allah, tiada satu cita-cita yang lebih aku dambakan di dunia ini selain aku dimakamkan di samping makam Rasulullah saw “. Demikianlah keadaan wafatnya Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq, Sayyidina Umar bin Khattab RA.

Demikian pula Khalifah ketiga Sayyidina Utsman bin Affan RA orang yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW yang menikah dengan dua puteri Rasulullah saw yaitu Sayyidatuna Ruqayyah dan Sayyidatuna Ummu Kaltsum. Ketika sayyidina Utsman bin Affan Ra sudah hampir wafat, ia bermimpi Rasul SAW bersama sayyidina Abu Bakr As Shiddiq bersama Sayyidina Umar bin Khattab dan para sahabat lainnya yang telah wafat, maka Rasulullah saw berkata : ” Wahai Utsman apakah kau mau berbuka di dunia atau berbuka puasa bersama kami ?” , maka Sayyidina Utsman bin Affan berkata : ” Ma’akum, ma’akum ( bersama kalian ) wahai Rasulullah “. Maka di siang hari itu masuklah seseorang dari kelompok munafik dan memukulkan pedang di wajah sayyidina Utsman bin Affan yang sedang membaca Al qur’an Al Karim, dan darahpun mengalir membasahi wajah beliau dan mushaf Al quran Al Karim, dan disaat itu tentunya beliau berbuka puasa bersama Rasulullah SAW . Diriwayatkan dalam Sirah As Shahabah bahwa saat itu beliau sedang dalam keadaan sakit keras, tapi beliau memaksakan untuk berpuasa, maka setelah ditanya mengapa kau puasa wahai Utsman sedangkan engkau dalam keadaan sakit, setelah ditanya beberapa kali beliau tetap tidak menjawab, tetapi akhirnya Sayyidina Utsman menceritakan bahwa beliau bermimpi Rasulullah saw bersama sayyidina Abi Bakr dan sayyidina Umar bin Khattab dan Rasulullah saw bertanya maukah kau berbuka puasa bersama kami?, maka aku ( sayyidina Utsman ) berpuasa agar bisa berbuka puasa bersama mereka. Hadirin hadirat, Sayyidina Utsman adalah salah satu Khalifah yang berjasa di dalam banyak hal, diantaranya berakhirnya penjilidan Al quran Al Karim sehingga digelari Mushaf Utsmani .

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari ketika salah seorang yang membenci sayyidina Utsman di masa Taabi’in berkata kepada Abdullah bin Umar : ” Wahai Ibn Umar, aku ingin bertanya tiga hal, yang pertama bukankah sayyidina Utsman bin Affan tidak hadir dalam perang Badr ?”, sayyidina Abdullah bin Umar menjawab : ” betul, beliau tidak hadir di perang Badr “, kemudian orang itu bertanya lagi :” bukankah dia tidaka hadir di Baiat Ar Ridwan ? “, sayyidina Abdullah bin Umar berkata : ” betul, beliau tidak hadir dalam Baiat Ar Ridwan “, dan orang itu berkata lagi : ” bukankah dia tidak hadir dalam perang Uhud ? “, sayyidina Abdullah bin Umar menjawab : ” betul beliau tidak hadir di dalam perang Uhud “. Maka orang itu berkata : ” Ya sudah terimakasih “, dan kemudian pergi. Sayyidina Abdullah bin Umar memanggilnya : ” Wahai fulan, kemarilah!! Kalau kau mengatakan bahwa sayyidina Utsman bin Affan tidak hadir dalam perang Badr itu betul, namun banyak saksi yang mutawatir, para sahabat menyaksikan bahwa ketidakhadiran sayyidina Utsman bin Affan di dalam perang Badr itu dikarenakan sayyidina Utsman bin Affan menjaga istrinya yaitu putri Rasulullah saw yang sedang sakit” . Maka ketika itu sayyidina Utsman bin Affan bertanya kepada Rasulullah saw : Wahai Rasulullah, aku mau berangkat perang tapi putrimu sedang sakit “, maka Rasulullah saw berkata : ” tetap di tempatmu, jangan berangkat perang jagalah putriku “, maka ia menjaga putri Rasulullah saw dan meninggalkan perang Badr, sampai ketika kepulangan Rasul saw terdengar kabar bahwa Allah SWT mengampuni dosa-dosa Ahlul Badr sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul saw bersabda : Allah swt berfirman kepada Ahlu Badr :

اِعْمَلُوْا مَاشِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

” Wahai Ahlu Badr, beramallah semau kalian sungguh Aku telah mengampuni dosa-dosa kalian ”

Maka Sayyidina Utsman menangis dan berkata : “Ya Rasulullah kemuliaan Badr tidak aku dapatkan, demi menjaga putrimu”, maka Rasulullah saw berkata : “Engkau termasuk ahlul Badr, dan engkau mendapatkan pahala ahlul Badr “. Hal ini merupakan salah satu dalil bahwa mengirim pahala kepada yang hidup pun diperbolehkan karena hal itu diperbuat oleh Rasul saw. Maka berkata sayyidina Abdullah bin Umar : ” Ketidakhadiran sayyidina Utsman bin Affan di perang Badr karena menjaga putri Rasulullah saw, tetapi Rasulullah mengatakan bahwa sayyidina Utsman bin Affan termasuk Ahlul Badr dan mendapatkan pahala ahlul Badr “. Adapun ketidakhadiran sayyidina Utsman di perang Uhud dikarenakan di saat itu Rasul saw mengutus beliau ke suatu tempat, ini adalah perintah Rasul saw. Dan ketidakhadiran beliau di Baiat Ar Ridwan karena beliau telah di perintah oleh Rasulullah untuk pergi ke Makkah Al Mukarramah dalam tugas”. Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari ketika dalam Bai’at Ar Ridwan, Rasul saw mengangkat tangan kanan beliau seraya berkata kepada para sahabat : ” ini tangan kanannya Utsman bin Affan, mewakili daripada tangan Utsman bin Affan “. Demikian keadaan para sahabat RA wa ardhaahum.

Adapun Khalifah yang terakhir Baabul ‘Ilm ( gerbang ilmu ) nya Rasulullah saw yaitu sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw. Di riwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah saw berkata kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib :

يَا عَلِيُّ أَنْتَ مِنِّيْ وَأَنَا مِنْكَ

” Wahai Ali, kau adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari kamu ”

Merupakan satu kedekatan dan bentuk cinta yang sangat dahsyat dari Nabi Muhammad saw. Ketika para sahabat ingin melamar putri tercinta Rasulullah saw, sayyidatuna Fathimah Az Zahra’ , maka Rasul saw tidak memberikannya sampai sayyidina Ali yang datang kepada Rasulullah saw , maka barulah Rasulullah memberikan putrinya untuk dinikahi oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw. Dan sayyidina Ali tidak menyukai perpecahan, sungguh ketika terjadi perpecahan dan perbedaan pendapat maka sayyidina Ali berkata : “silahkan kalian musyawarah sendiri dan putuskan sendiri, sungguh aku benci dengan perbedaan pendapat, yang kuinginkan adalah seluruh manusia ini satu suara dan satu pendapat, kalau aku tidak bisa menyatukan perpecahan ini aku lebih memilih menyusul para sahabatku (sayyidina Abu Bakr, Umar dan Utsman RA)”. Setelah waktunya dekat sayyidina Ali berkata : ” mana orang yang akan datang memukulkan pedangnya ke wajahku ?!”, maka seseorang berkata : “Wahai Ali Amirul Mu’minin apa maksudmu berkata seperti itu ?”, sayyidina Ali berkata : ” Rasul saw telah bersabda : ” Wahai Ali nanti disaat waktunya engkau wafat, kau akan banyak menghadapi perpecahan dan peperangan hingga ketika engkau sedang shalat maka ada seseorang dari sisimu memukulkan pedangnya di dahimu lantas darahmu mengucur sampai ke jambangmu, dan jenggotmu dan menetes maka itulah saat wafatmu” . Ketika sayyidina Ali menghadapi permasalahan dan perpecahan antara kaum muslimin, seraya berkata : ” mana orang yang akan datang memukul wajahku dengan pedangnya “. Dan saat sayyidina Ali sedang shalat subuh maka hal itu terjadi pada sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw, tetapi beliau tidak langsung wafat beliau sempat bicara kepada para sahabat : ” Janganlah kalian menyiksa orang yang telah memukulku dengan pedangnya itu, jangan terlalu keras mengikatnya jangan kau zhalimi dia karena aku akan berjumpa lagi dengan dia di hadapan Allah swt, kalau kalian berbuata zhalim kepadanya maka hal itu akan memberatkan hisabku”, demikianlah keadaan sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw, demikian keadaan Khulafaa Ar Rasyidin , demikian orang-orang mulia ini, demikian muhajirin dan anshar orang-orang yang sangat mencintai Rasulullah SAW .

Ketika perang Hunain dimana perang Hunain ini diikuti oleh banyak para Thulaqaa’ yaitu yang awalnya adalah para musuh Islam tetapi kemudian masuk Islam . Namun ketika mereka terjebak dalam kesulitan di perang hunain maka mereka berpecah belah, mundur melarikan diri dan Rasul SAW hanya bersama dengan beberapa orang terdekat beliau, maka Rasul SAW melihat ke atas bukit dan berkata ; ” Ya Ma’syaral Anshar ( wahai kaum Anshar ) “, maka kaum Anshar pun turun seraya berkata : ” Labbaik wa sa’daik wa nahnu ma’aka ya Rasulallah ( kami datang wahai Rasulullah dan kami bersamamu )”. Maka Rasulullah memanggil pula yang di atas bukit di sebelah kirinya : ” Ya Ma’syaral Anshar “, maka kaum Anshar pun turun dengan ucapan yang sama: ” Labbaika wa sa’daika ya Rasulallah “, lalu mereka bersatu dengan Anshar maka musuh-musuh terkalahkan dan Rasul saw membawa ghanimah ( harta rampasan perang ) dengan kemenangan, lalu membagikannya kepada kaum muhajirin dan kaum thulaqaa, padahal kaum thulaqaa’ adalah orang-orang yang meninggalkan Rasul saw saat perang itu, maka sebagian kaum ada yang berkata : ” Nabi ketika dalam kesusahan yang dahsyat kami yang dipanggil , tetapi disaat pembagian ghanimah perang kami tidak kebagian “. Maka Rasul saw memanggil kaum Anshar, beliau tidak marah kepada kaum Anshar dengan mengatakan :” Kalian kan punya harta, punya rumah, hewan ternak dan punya usaha, sedangkan mereka orang thulaqaa’ orang-orang yang baru saja memusuhi Islam kemudian masuk Islam, dan Muhajirin adalah orang-orang yang pindah dari Makkah dan tidak punya rumah sebagian tidak punya harta maka mereka lebih berhakl dari kalian..! “, tapi Rasul tidak mengatakan demikian namun Rasul SAW berkata : ” Sungguh wahai kaum Anshar, kuberikan ghanimah perang berupa harta dan hewan ternak, kambing dan onta kepada kaum muhajirin dan thulaqa’, dan aku berikan diriku pada kalian, ridhakah kalian ” ?, maka kaum Anshar pun menunduk dan Rasul saw berkata : ” Mereka kaum thulaqa’ dan Muhajirin pulang dengan membawa kambing dan onta, sedangkan kalian pulang membawa diriku “, maka kaum Anshar menangis gembira, demikian cintanya Rasulullah kepada kaum Anshar. Diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, ketika di hari Fath Makkah Rasul SAW berkata : ” Barangsiapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan dia aman, barangsiapa yang masuk ke rumahnya dan mengunci rumahnya dia aman, dan barangsiapa yang masuk ke Masjidil Haram maka dia aman “. Maka kaum Anshar mulai risau setelah mendengar perkataan Rasul SAW, dan mereka berkata : “Rasulullah sudah pulang kampung dan sekarang kita sudah tidak diperhatikan lagi, buktinya Rasulullah sudah memuliakan Abu Sufyan yang awalnya adalah musuh besar Islam kini beliau sudah pulang kampung dan kembali kepada keluarganya”. Maka kabar sampai kepada Rasul SAW lewat Jibril AS ” kaum Anshar ada yang berkata bahwa engkau telah pulang ke kampung halaman dan berpisah dengan mereka, tampaknya mereka kecewa wahai Rasulullah”. Maka Rasul saw memanggil ” Ya ma’syaral anshar ( wahai kaum Anshar ) “, dan merekapun datang berkerumun dihadapan Rasul saw tampak wajah mereka muram dan sedih, maka Rasul SAW berkata : ” kalian telah mengatakan bahwa aku akan pulang kampung kembali ke tanah kelahiranku di Makkah”, lantas Rasulullah saw bersabda :

كَلاَّ إِنِّي عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ هَاجَرْتُ إِلَى اللهِ وَإِلَيْكُمْ اَلْمَحْيَا مَحْيَاكُمْ وَالْمَمَاتُ مَمَاتُكُمْ

” Sungguh tidak, aku ini hamba Allah dan RasulNya, aku hijrah kepada Allah dan kepada kalian hidupku bersama kalian, dan wafatku bersama kalian ”

Maka merekapun menangis, memeluk dan mencium Rasul saw dari gembiranya. Jadi Rasul saw berkata : ” kalian mengatakan aku sudah pulang kampung lalu kalian berpisah denganku, maksudnya begitu? Maka Rasul berkata : ” Sungguh aku ini hambaAllah dan RasulNya , aku hijrah dari Makkah kepada Allah ke kampung kalian, maka hidupku bersama kalian dan wafatku bersama kalian “, maksudnya Rasul akan kembali ke Madinah setelah ini dan wafat disana. Maka kaum Anshar menangis dan memeluk Rasul saw karena gembira. Inilah 14 abad yang silam yang terang benderang dengan cahaya keluhuran, cahaya keluhuran itu tidak padam terwariskan dari zaman ke zaman dengan satu sambungan sabda sang Nabi saw :

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

” Seseorang bersama dengan orang yang dicintai ”